Hari
ke-3 dalam #30HariMenulisSuratCinta
Untuk
mbak mbak depan kos, sebut saja Luna.
Hai, Luna. Mungkin saat kamu membaca surat ini, kamu sudah wisuda
atau bahkan sudah menikah. Karena yang aku tahu, kamu mahasiswa semester akhir,
aku tidak begitu suka dengan sebutan semester tua, makanya aku menyebut
semester akhir, kenapa? Karena kata akhir itu menunjukkan akan sebuah keusaian,
usai belajar di duina kampus. Yeei, selamat.
Bagaimana paragraf pembuka suratku? Bagus kan?
Oh iya, kemarin selokan macet lagi. Seperti biasa, aku dan teman-teman
yang membersihkan penyumbatnya, dibantu sama mbak-mbak samping kos. Tapi berharapnya
si dibantu kamu, kenapa kamu tidak pernah membantu? Kenapa kamu selalu pulang
tapat saat kita selesai membersihkannya? Coba saja kamu tidak jalan kaki, coba
kamu naik motor, pasti bisa lima belas menit lebih awal sampai kos, dan waktu
lima belas menit itu cukup untuk bergabung membersihkan selokan.
Naik motor, ya? Jangan ding, tetap jalan kaki saja. Kamu terlihat
anggun dengan langkah-langkahmu yang walaupun sendiri tetap bisa berjalan
tegap. Kamu cantik dengan caramu jalan kaki. Sempat aku ingin memberanikan diri
memberi tawaran tumpangan padamu, ah niat itu hanya sebetas niat, aku tidak
berani. Berani itu memang pekerjaan yang baik, tidak semua orang bisa melakukanya,
termasuk aku.
Kemarin, aku tidak tahu tepatnya kapan, kamu sedang ngobrol dengan
cowok di depan kos. Siapa dia? Yang aku lihat dari jendela, kalian hanya
bertukar buku lalu ngobrol biasa saja. Tapi aku curiga, selalu cowok itu yang
meminjam bukumu. Atau mungkin, memang dia satu-satunya lelaki di kelasmu? Ah sudahlah.
Kamu memang cantik dengan caramu, seperti hal membuatku penasaran ini.
Nanti kapan-kapan akan kucoba memberimu tawaran, tapi aku tidak
janji, yang seharusnya janji itu kamu, janji untuk tidak menolaknya.
Sudah, ya. Tetap cantik dengan caramu yang sederhana, aku suka yang
seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar