Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran
buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses
Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya
terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya,
itulah pikiran saya waktu itu.
Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli
dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur,
Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya
“tinggalkan” begitu saja.
Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak
saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun
baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat
melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati:
