Hari ke-16 dalam #30HariMenulisSuratCinta
Hai Nona, apa kau sudah siap untuk pertemuan nanti, pertemuan pertama
kalinya dalam dua tahun ini? Aku bingun mau mengenakan pakaian apa, celana apa,
kaos kah atau kemeja kah. Aku bingung. Sebingung rindu ini yang telah lama tak
kau periksa.
Akan sangat menyenangkan kita berada dalam satu waktu satu ruang
untuk membicarakan kita yang dulu, lalu membandingkannya dengan kita yang
sekarang. Bukan begitu? Huh, degupku cukup cepat. Kancing kemejaku mau copot dibuatnya.
Apa kau juga bagitu?
Apa kau juga sudah menyiapkan pakaian? Jangan terlalu rame, ya, aku
tidak begitu suka. Asalkan kamu datang dan kita bicara lama-lama saja itu sudah
sangat cukup menyenangkan.
Satu waktu satu ruang untuk membicarakan kita yang dulu, lalu
membandingkannya dengan kita yang sekarang. Terima kasih Nona, telah sudi
meluangkan waktu untuk kita. Hal apa yang nanti akan kamu ceritakan? Kalau aku
akan bercerita tentang, aku yang.. .ah sudahlah. Selamat bertemu, ya. Seperti biasa,
jangan terlambat.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ah, seandainya kita benar-benar akan bertemu, maka pesan diatas
sudah aku sampaikan langsung padamu lewat alat sambung.
Seandainya aku berani dan kamu mau, atau kamu berani dan aku mau
diajak bertemu. Pesan diatas juga sudah aku kirim untukmu. Tapi nyatanya, kita
tidak akan benar-benar bertemu.
Semoga Tuhan menghapus kata ‘seandainya’ pada dua paragraf sebelum
ini. Semoga Tuhan menghapusnya lewat kamu. Kita benar-benar akan bertemu. Aku berani
dan kamu mau, atau kamu berani dan aku mau diajak bertemu. Itu pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar