8.2.14

Gelas Kopi


Hari ke-8 dalam #30HariMenulisSuratCinta
Untuk gelas kopi pahitku


Sudah lama sekali sebenarnya aku ingin mengirim surat untukmu, gelas kopi. Ingin kusampaikan semua rasa terima kasih dan rasa bahagia bisa bersamamu. Rasa hormat bisa meminum kopi lewat tubuh gemukmu.

Waktu memang bisa mengantar segalanya, seperti sekarang, waktu memisahkan kita. Kamu berada di kos, sedangkan aku di rumah. Apa kabarmu? Ada orang yang menyeduh kopinya ditubuhmu? Pasti tidak ada, aku yakin itu. Terakhir kali aku meletakkanmu di atas meja samping televisi, kamu masih tetap di sana? Ah, kasihan sekali kamu tidak mempunyai teman.

Kopiku pahit, dan kamu menyukai itu. Karena katamu: “Tuhan curang, Dia mengambil pahit dalam kopi yang seharusnya pahit. Dia menambahkan pemanis, susu, coklat dan yang lain yang menghilangkan rasa pahit dalam kopi. Dan kopi bukan kopi lagi.” Aku sangat senang saat kalimat itu terucap dari bibirmu yang setiap harinya aku kecupi, dan tidak merasa bosan. Dan kamu beruntung, bisa merasakan legit dalam bibirku saat kita beradu.

Sekarang, aku menyeduh kopi di gelas yang lain. Gelas yang menyukai kopi manis. Namun kopiku tetap pahit, lalu dia berucap: “kenapa kopimu pahit? Tidak seperti kopi yang sekarang ramai disukai orang?” Aku bertemu gelas yang salah.


Lalu kuminum kopiku, tidak di gelasmu, tidak juga di gelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkumpulah, berkumpulah

Hari itu, hari setelah penantian panjang bertahun-tahun untuk memiliki anak, turun perintah langit untuk Ib. Ia disuruh membawa istri dan a...