Hari ke-8 dalam #30HariMenulisSuratCinta
Untuk gelas kopi pahitku
Sudah lama sekali sebenarnya aku ingin mengirim surat untukmu,
gelas kopi. Ingin kusampaikan semua rasa terima kasih dan rasa bahagia bisa
bersamamu. Rasa hormat bisa meminum kopi lewat tubuh gemukmu.
Waktu memang bisa mengantar segalanya, seperti sekarang, waktu
memisahkan kita. Kamu berada di kos, sedangkan aku di rumah. Apa kabarmu? Ada orang
yang menyeduh kopinya ditubuhmu? Pasti tidak ada, aku yakin itu. Terakhir kali
aku meletakkanmu di atas meja samping televisi, kamu masih tetap di sana? Ah,
kasihan sekali kamu tidak mempunyai teman.
Kopiku pahit, dan kamu menyukai itu. Karena katamu: “Tuhan curang,
Dia mengambil pahit dalam kopi yang seharusnya pahit. Dia menambahkan pemanis,
susu, coklat dan yang lain yang menghilangkan rasa pahit dalam kopi. Dan kopi
bukan kopi lagi.” Aku sangat senang saat kalimat itu terucap dari bibirmu yang
setiap harinya aku kecupi, dan tidak merasa bosan. Dan kamu beruntung, bisa
merasakan legit dalam bibirku saat kita beradu.
Sekarang, aku menyeduh kopi di gelas yang lain. Gelas yang menyukai
kopi manis. Namun kopiku tetap pahit, lalu dia berucap: “kenapa kopimu pahit? Tidak
seperti kopi yang sekarang ramai disukai orang?” Aku bertemu gelas yang salah.
Lalu kuminum kopiku, tidak di gelasmu, tidak juga di gelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar