![]() |
| ujangerwin.wordpress.com |
“Dastan,
kamu tidak mengerjakan PR lagi?”
Suara itu tetap setia diingatan
Dastan, dari sepuluh tahun lalu sampai sekarang, sampai Dastan menjadi
mahasiswa. Suara itu selalu terdengar
olehnya, suara yang berbeda nada dengan suara lainya, suara yang membuat Dastan
tetap berangkat sekolah. Ya, sepuluh tahun lalu Dastan masih SD, anak sekolah
dasar kelas empat berumur sepuluh tahun, anak yang sering tidak mengerjakan PR
dan selalu disuruh oleh ibu guru mengerjakanya diluar kelas.
Pernah suatu ketika, si pemilik
suara itu sengaja keluar kelas hanya untuk membantu Dastan mengerjakan PR.
Alhasil, mereka berdua dilarang pulang oleh ibu guru sebelum menyapu kelas. Si
pemilik suara ini memang aneh, Destia namanya.
***
“Dastan, PR ku belum kubuat, kita
sama-sama diluar kelas sekarang,” dari aneh, Destia menjadi bodoh karena
sengaja tidak mengerjakan PR, dan menjadi tolol ketika mengajak Dastan main
layang-layang daripada melanjutkan sekolah hari itu.
Layang-layang memeng selalu
mempunyai cerita sendiri bagi Destia. Seperti hari itu, Destia terjerembab
dalam got sawah ketika memainkannya. Dastan yang berusaha membantu malah ikut
masuk bersamanya, mereka saling menertawakan. “Destia terlihat sangat cantik
dan menyenangkan saat tertawa,” itulah yang ada dipikiran Dastan saat melihat
Destia tertawa.
Sejak hari itu, Dastan tidak
pernah lagi dikeluarkan dari kelas karena PR. Destia selalu membantu
mengerjakannya, Dia anak perempuan yang pintar, baik dan rajin. Satu lagi, dia
sangat suka menulis. Dia sering menulis disela-sela membantu Dastan mengerjakan
PR, setiap Dastan bertanya untuk siapa tulisan itu, Destia selalu menjawab, “Untuk
seseorang yang sangat aku sayang, orang yang bernasib sama denganku.”
Destia sesekali berbincang dengan
nenek Dastan ketika Dastan sibuk mengerjakan PR. Nenek itu sudah Destia anggap
seperti nenek sendiri. Dia juga sering membantu nenek menyapu halaman.
Setelah PR selesai, Destia selalu meminta
imbalan atas bantuanya, Dia selelu mengajak Dastan bermain. Tempat gembala sapi
menjadi tempat kesukaanya, tempat yang banyak kupu-kupu. Ya, Destia sangat
menyukai kupu-kupu, melebihi kecintaanya pada layang-layang. Katanya, kupu-kupu
itu hewan berjuta makna. Sesampainya disana, Destia langsung menengkapnya.
“Dastan, lihat apa yang
kutangkap. Ini kupu-kupu biru, aku sangat menyukainya.”
“Bagus sekali, Des. Mau kamu
apakan kupu-kupu itu?”
“Aku akan membawanya pulang, agar
bisa kulihat kapan pun aku mau,” jawab Destia seraya mengelus-elus punggung
kupu-kupu itu.
“Kenapa mau dibawa pulang? Bukankah
alam habitat aslinya?”
“Sudah kubilang kan, aku sangat
menyukainya.”
“Tidak, Des. Itu bukan suka,
kalau suka, kamu tidak akan tega membawanya pulang, itu menyiksa namanya. Dia
tidak bebas lagi, dia terkurung oleh rasa suka mu yang salah.”
“Tapi, Das. Aku akan merawatnya,”
sergah Destia.
“Sekuat apa kumu bisa merawatnya?
Kalau memang suka, lepaskan, biarkan alam yang merawatnya. Suka tidak selalu
harus bersama dan saling memiliki, Des.” Kali ini Destia dibuat kikuk oleh
penjelasan Dastan. Dan Destia benar-benar menuruti perkataan Dastan, kupu-kupu
itu dilepas kembali.
***
Hanya hitungan jam dari tempat
gembala sapi, Dastan harus ke Jogja. Malam-malam ia harus ke terminal bersama
neneknya untuk berangkat. Dia diasuh
nenek sejak berumur dua tahun, Dia tidak tahu orang tuanya dimana, yang Dia
tahu hanya namanya, Bapak Hutama dan Ibu Helvy Rahmawati.
Pamitan? Harusnya hal ini Dastan
lakukan pada Destia, pada orang yang telah sedikit merubah hidupnya. Minggu
pertama setelah Dastan pergi, melamun menjadi kegiatan baru Destia.
“Apa
ini inti dari pesan Dastan kemarin di tempat gembala sapi?”
“Kalau
memang suka, lepaskan, biarkan alam yang merawatnya. Suka tidak selalu harus bersama
dan saling memiliki.” Kalimat itu terparkir diingatan
Destia dan sepertinya enggan untuk pergi.
"Dan kenapa hanya untuk
mengucapkan salam perpisahan Dastan tidak mau? Apa karena Dastan tahu
kalau aku ...?"
Pertanyaan itu pun muncul
dikepalanya. Pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu ditanyakan akan Dia
dapatkan jawabanya.
***
Hari ini ada pameran buku di
kampus Dastan, buku menjadi barang yang Dia sukai semenjak kuliah. Hari ini
pula Dia sudah mempersiapkan uang untuk buku-buku baru yang menggodanya. Dihari
ini pula jadwal kuliah Dastan kosong, Dia bisa sepuasnya mengelilingi pameran
itu, mengublek-ublek buku lama-lama. Satu jam ditempat itu, ada satu buku yang
berhasil menggodanya, judulnya "Temukan Separuh Hatimu Hari Ini."
Buku itu berhasil Dastan miliki dengan menukar dua lembar uang kertas lima
puluh ribuan, Dia duduk dikursi yang sudah disiapkan panitia untuk membaca.
"Separuh Hati di SD," bab pertama dari buku itu. Ketika baru beberapa
lembar Dastan membacanya, ada orang tak dikenal tetapi mengenalinya sedang
menyebut namanya.
“Dastan?
Kamu Dastan?” ucap orang itu.
“Destiaaaaa,”
dastan berteriak setelah memori ingatan di Kendal terhubung dengan Jogja.
“Dastan?”
“Destia?”
“Kamu tinggal di Jogja sekarang?
Kenapa tidak pernah memberi kabar? Kenapa tidak pernah main ke Kendal lagi?
Kenapa?” pertanyaan
Destia seperti suara klakson bus dijalanan macet yang dipencet berulang-ulang.
“Eh,
kamu beli buku ku juga ya” tambah Destia.
“Hah,
ini buku kamu?” wajah Dastan terheran-heran.
“Coba
dilihat siapa penulisnya?”
“Des-ti-a Rah-ma-wa-ti,” suara
Dastan terbata-bata mengeja nama pengarangnya, ternyata Destia.
“Waah,
hebat kamu Des, Sudah nerbitin buku.”
“Itu cuma diaryku, aku kirim ke
penerbit. Beruntungnya aku, penerbit bersedia menerbitkan diaryku menjadi
buku.”
"Waah,
buku ini mungkin tepat untuk kita, apalagi bab pertamanya, Separuh Hati di
SD. Iya kan, Des?"
"Iya
ya, Das. Haha dunia sesempit tempat gembala sapi di Kendal ternyata."
Dastan menyuruh Destia duduk
disampingnya untuk melanjutkan obrolan hari itu. Mereka bercerita panjang lebar
tidak karuan, mulai dari lanjut SMP dimana? SMA dimana? Bagaimana kabar ibu guru
yang sering menyuruh keluar? Apakah tempat gembala sapi masih ada atau sudah
menjadi gedung? Apakah masih banyak anak yang bermain layang-layang seperti dulu?
Sampai Destia menanyakan, kenapa
Dastan enggan berpamitan ketika mau ke Jogja. Dan Dastan hanya bilang, “Aku
terburu-buru, nenek tidak mengijinkanku untuk kerumahmu barang mengucap kata
perpisahan.”
Dastan pun tidak kalah, ia
menanyakan siapa laki-laki yang dibahas dibuku Destia. Laki-laki ini muncul di
bab pertama, sepertinya dia sangat spesial bagi Destia.
“Laki-laki
yang kamu ceritakan dibuku kamu ini, siapa kamu, Des?”
Destia
hanya diam.
“Des,
Des.” Suara Dastan tidak dapat menyadarkan lamunanya.
Hening
beberapa saat, sampai Destia berbicara, “Itu kamu Das, iya itu kamu.”
“Maksutnya?” Dastan kaget dengan
jawaban itu. Sontak dia langsung bangkit dari sandaran.
“Iya itu kamu, kamu adik
kandungku, Das. Kamu anak dari Bapak Hutama dan Ibu Helvy Rahmawati.”
Dastan
menggeleng pelan, raut mukanya menunjukan kalau Dia tidak percaya.
“Das, percayalah, lihatlah nama
terakhir dari namaku dan ibumu, sama kan? Rahmawati. Lihat lah nama kita juga,
Dastan dan Destia, sangat mirip bukan?" jelas Destia lebih, agar Dastan
percaya.
“Tapi,
tapi Des?”
“Dastan, perlu bukti apa lagi?
Kamu ingat ketika dulu aku mengajarimu mengerjakan PR lalu aku sibuk menulis?
Dan setiap kamu bertanya untuk siapa tulisan itu aku selau menjawab “Untuk
seseorang yang sangat aku sayang dan bernasib sama denganku.” Dastan,
orang itu kamu, kamu adik kandungku. Sekarang kita kerumahmu, temui nenek,
tulisan itu dibawa nenek. Aku menitipkannya , untuk diberikan ke kamu nanti
setelah dewasa.
Dastan
langsung menarik tangan Destia dan mengajaknya pulang untuk menemui nenek.
***
Nenek
sedang duduk diruang depan ketika mereka sampai dirumah.
“Nek,
surat yang dulu aku titipkan ke nenek masih ada kan, nek?”
“Kamu
Destia?”
“Iya
nek, ini Destia yang dulu nitip surat ke nenek. Sekarang suratnya dimana, nek?”
“Kamu tambah cantik nak, nenek
sampai pangkling” nenek memilih memuji ketimbang langsung mengambil suratnya.
“Iya
nek, terima kasih. Sekarang suratnya dimana, nek?”
“Surat yang dulu itu? Nenek lupa
menaruhnya dimana. Seingat nenek, surat itu nenek taruh di map bersama
surat-surat penting lainya.” nenek menuju gudang untuk mencari surat itu.
Beberapa
saat, suratnya ketemu. Nenek memberikannya pada Destia.
“Das, baca surat ini, ini surat
yang dulu aku tulis untukmu, surat yang aku titipkan pada nenek.” Dastan
mengambil surat itu dari tangan Destia lalu membacanya.
“Teruntuk Dastan adik kandungku
yang kusayang…
Dastan, belajar yang rajin ya,
jangan sampai dikeluarkan dari kelas lagi.
Kamu ingat tidak Das, waktu
kemarin kakak masuk ke got? Itu kakak sedang berdoa supaya nanti ada waktu yang tepat
untuk memberi tahumu kalau kita saudara.
Kakak tahu kalau kita saudara
dari Ibu Sofiah, kepala panti asuhan Cinta Negri. Kita saudara Das, dulu ada
sepasang suami istri yang menitipkan kita disana. Saat usiamu dua tahun, kamu
diadopsi nenek, hanya selisih satu minggu kakak diadopsi oleh tetangga nenek.
Kamu tahu rasayna dipanggil
"kakak" oleh adiknya sendiri?
Panggil aku kakak, Das.
Kendal, 14 September 2001
Destia Rahmawati.”
Kendal, 14 September 2001
Destia Rahmawati.”
***
Air dimata Dastan jatuh setelah
membaca surat itu, lalu bibirnya berucap dengan pelan tanpa Dia sadari.
“Kakak,”
ucap Dastan lirih.
Dan Destia yang mendengar kata
itu terucap dari mulut Dastan, juga tak sanggup menahan air dimata untuk tidak
jatuh.
Akhirnya
suara itu kembali terdengar, suara yang setia diingatan Dastan.
“Dastan,
kamu tidak mengerjakan PR lagi?” Destia mencoba bernostalgia dengan pertanyaan
yang dulu sering Ia tanyakan pada Dastan.
“Haha,”
Dastan tertawa ringan mendengar kalimat itu terucap lagi dari bibir Destia,
Mereka
saling berpelukan dan menangis dibahu yang lain.
“Kak,
cari ayah dan ibu bersama ya?”
---the end---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar